Terbuka Peluang Usaha Hantaran & Clay

Filed Under (Pelatihan) by sbw on 21-07-2009

Tagged Under : , ,


Ditangan seorang kreatif, apapun bisa menjadi berharga. Dari tepung bisa menjadi boneka lucu yang bernilai jual tinggi. Begitu pula hamparan kain dan kardus bisa nampak cantik yang juga punya nilai tambah. Kreatifitas inilah yang diperoleh para anggota SBW pada Juli lalu.

Terbuka Peluang Usaha Hantaran & Clay Tanah liat memang bukan hal asing. Dari tanah liat bisa menjadi berbagai alat dapur hingga atap rumah. Ditangan seorang yang berjiwa seni, tanah liat juga bisa berubah menjadi berbagai barang bernilai seni. Ditangan anak-anak, tanah liat bisa berubah menjadi berbagai mainan. Pendek kata, tanah liat bisa berubah menjadi berbagai barang yang bernilai apapun bergantung dari kreatiftasnya.

Tapi sebagian ada juga yang menganggap tanah liat, membuat tangan, baju dan tempat menjadi kotor. Dari permasalahan ini nampaknya justru memunculkan ide kreatif untuk menggantikan tanah liat dengan tepung. Hasilnya, berbagai boneka kecil yang lucu dan mempunyai nilai jual tinggi dan cocok sebagai souvenir. Kreatifitas dari tepung inilah yang kemudian disebut dengan clay. Hasil kreatifitas clay ini nampaknya juga mulai banyak ditemuai dipasaran.

Mengingat peluang pasar clay ini masih cukup tinggi, maka anggota SBW pada RK-RAPB 2009 mengusulkan ketrampilan clay. Usulan anggota yang telah disepakati ini telah dilaksanakan pada Juli lalu dengan melibatkan 109 peserta. Dari jumlah peserta tersebut dibagi menjadi 3 kelas. Sedang pelaksanaanya dibagi menjadi 2 hari yaitu 15 Juli dan 19 Juli.

Clay ini mempunyai nilai seni tinggi. Jadi hargapun, kita sendiri yang bisa menentukan. Semakin kita kreatif dan hasilnya sangat digemari maka harganya juga bisa dipatok tinggi. Untuk sebuah boneka dengan tinggi sekitar 5 cm ini harganya bisa sampai Rp 35 ribu,“ tukas Ibu Monica dihadapan peserta pelatihan ketrampilan clay yang sekaligus untuk memotivasi peserta agar lebih bersemangat.

Nampaknya ibu-ibu anggota juga sangat bersemangat dengan pelatihan ketrampilan tersebut. Seakan menemukan mainan baru, ibu – ibu mulai meremas-remas tepung ditangannya hingga liat. Setelah itu merekapun dibimbing untuk membuat boneka dan bunga dari tepung tersebut. Diluar dugaan, dalam pelatihan sehari itu, ternyata ibu-ibu telah bisa membuat boneka kecil yang lucu. Meski untuk bisa menghasilkan produk yang layak jual, masih perlu pelatihan lebih lanjut.

Dibalik pelatihan tersebut, ternyata juga ada cerita lain yang cukup menarik. Tim yang telah ditunjuk untuk mengawal pelatihan ketrampilan ini ternyata kesulitan mencari instruktur. Karena dari 10 ribu anggota SBW, ternyata belum ada yang menjadi pelatih clay. Tim yang terdiri dari PPL itupun mengubek-ubek toko buku untuk mencari buku clay. Dari buku itulah ditemukan nama Ibu Monica sebagai pengarang buku clay. Tim pun kemudian menghubungi penerbit agar bisa menemui sang penulis tersebut. Maka legalah tim ini setelah mendapat kepastian dari Ibu Monica tentang kesanggupannya melatih anggota SBW.

Terbuka Peluang Usaha Hantaran & Clay Berbeda dengan pelatihan membuat hantaran. Untuk pelatihan ini, tim tidak kesulitan mencari instruktur. Karena Ibu Laksmiwati Etty yang pernah memberikan pelatihan kerajinan dari kertas semen tersebut juga mahir dalam membuat hantaran. Bahkan Ibu Etty anggota kelompok 370 ini juga sudah mengarang buku tentang hantaran. Sehingga di bulan Juli itu pula usulan anggota tentang ketrampilan membuat hantaran bisa direalisasi. Read the rest of this entry »

Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!Top Show all blogsblog directoryblog search directoryArts Blogs - Blog RankingsBusiness blogs

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline